fixed cost dan variable cost
6840

Fixed cost dan variable cost merupakan dua jenis biaya yang wajib diperhitungkan oleh seluruh jenis bisnis. Fixed cost adalah biaya tetap yang tidak dipengaruhi oleh tingkat penjualan atau kondisi perusahaan, seperti sewa gedung dan gaji karyawan.

Sementara itu, variable cost adalah biaya yang mengikuti fluktuasi penjualan dan produksi, seperti biaya bahan baku dan tenaga kerja.

Memahami karakteristik kedua jenis biaya tersebut sangat penting bagi perencanaan dan pengendalian biaya operasional perusahaan.

Estimasi yang tepat atas fixed cost dan variable cost dapat membantu perusahaan menghindari kerugian akibat salah perhitungan. Untuk  memahaminya lebih lanjut, simak artikel berikut ini!

Apa itu Fixed Cost dan Variable Cost?

Fixed cost atau biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya konstan dan tidak berubah meskipun ada perubahan dalam volume produksi atau penjualan perusahaan. Contoh fixed cost adalah biaya sewa gedung dan gaji karyawan tetap.

Sementara itu, variable cost atau biaya variabel adalah biaya yang berfluktuasi seiring dengan perubahan tingkat produksi atau penjualan perusahaan. Contoh variable cost yaitu biaya bahan baku, biaya transportasi, dan upah tenaga kerja tidak tetap.

Perbedaan utama antara keduannya adalah bahwa fixed cost tetap konstan meskipun aktivitas bisnis perusahaan meningkat atau menurun.

Sementara itu, variable cost akan cenderung berubah-ubah sesuai dengan tingkat produktivitas atau penjualan perusahaan.

Perbedaan Fixed Cost dan Variable Cost         

Perbedaan antara fixed cost dan variable cost penting untuk dipahami agar pengelolaan dan perencanaan biaya operasional perusahaan berjalan optimal. Berikut ini beberapa perbedaan fixed cost dan variable cost yang perlu diketahui:

  • Menurut sifatnya: Fixed cost bersifat tetap atau pasti, sementara variable cost sifatnya cenderung berubah-ubah sesuai dengan aktivitas produksi perusahaan.
  • Hubungannya dengan proses produksi: Fixed cost tidak memiliki hubungan erat dengan kapasitas produksi, sedangkan variable cost terkait secara langsung dengan proses produksi.
  • Berdasarkan periode: Fixed cost akan tetap konstan dalam suatu periode waktu, sementara variable cost bisa berubah sesuai dengan volume produksi.
  • Perhitungan stok: Fixed cost tidak termasuk dalam perhitungan stok, sementara variable cost selalu diikutsertakan dalam perhitungan stok.

Baca juga: Ini 4 Cara Menghitung Penyusutan Aset dan Rumusnya, Catat!

Jenis-Jenis Fixed Cost dan Variable Cost

Terdapat beragam jenis fixed cost dan variable cost yang harus dikeluarkan perusahaan dalam kegiatan operasionalnya.

Memahami jenis-jenis fixed cost dan variable cost penting agar perusahaan dapat menyusun anggaran operasional dengan lebih akurat. Berikut ini jenis-jenis fixed cost dan variable cost secara lebih rinci:

Jenis Fixed Cost

1. Discretionary Fixed Cost

Discretionary fixed cost adalah biaya tetap yang bisa dikurangi atau dihilangkan tanpa memengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Biaya ini dapat dikurangi oleh manajemen saat perusahaan menghadapi masalah likuiditas jangka pendek untuk menghemat kas.

2. Committed Fixed Cost

Committed fixed cost adalah biaya tetap yang harus selalu dikeluarkan oleh perusahaan untuk menjaga kelangsungan bisnisnya.

Biaya ini terkait dengan struktur organisasi dan investasi fasilitas perusahaan. Walaupun perusahaan mengalami kesulitan finansial, biaya ini tetap wajib dikeluarkan.

Jenis Variable Cost

1. Rasio Variable Cost

Variable cost ratio adalah persentase biaya variabel terhadap total pendapatan bersih perusahaan. Rasio ini dihitung dengan membagi total biaya variabel dengan total pendapatan bersih.

Rasio ini membantu perusahaan membandingkan biaya produksinya dengan pendapatan bersih yang didapatkan.

2. Variable Overhead Cost

Variable overhead cost adalah biaya yang berkaitan erat dengan aktivitas produksi di dalam  perusahaan, contohnya antara lain biaya asuransi untuk tenaga kerja sakit saat bekerja atau mengalami kecelakaan kerja.

3. Semi Variable Cost

Semi variable cost adalah biaya yang memiliki karakteristik gabungan antara fixed cost dan variable cost. Terdapat elemen biaya tetap dengan jumlah yang konstan dan bagian biaya variabel yang berubah sesuai dengan aktivitas produksi. 

4. Direct Cost

Direct cost merupakan biaya yang terkait langsung dengan proses produksi suatu barang. Biaya ini dapat dialokasikan secara langsung pada setiap unit produk yang dihasilkan. Contoh direct cost antara lain biaya bahan baku dan biaya bahan bakar. 

Baca juga: Ini 3 Contoh SOP Perusahan yang Benar serta Cara Membuatnya

Contoh Fixed Cost dan Variable Cost

Terdapat beragam contoh fixed cost dan variable cost yang umum dijumpai dalam operasional perusahaan. Adapun beberapa contoh fixed cost dan variable cost adalah sebagai berikut:

Contoh Fixed Cost:

  • Beban bunga: Biaya yang timbul dari pinjaman dana perusahaan.
  • Biaya asuransi: Jumlah uang yang harus dibayarkan untuk premi asuransi.
  • Biaya sewa: Biaya yang terkait dengan penggunaan properti yang dimiliki oleh pihak lain untuk operasional perusahaan.
  • Pajak properti: Pajak yang dikenakan pada perusahaan berdasarkan kepemilikan aset.
  • Penyusutan nilai aset: Pengurangan nilai bertahap dan teratur terhadap aset fisik.
  • Pembayaran Gaji: Pembayaran wajib perusahaan kepada karyawan, bisa harian, mingguan, dan bulanan.
  • Utilitas: Biaya seperti listrik dan telepon. Meskipun biayanya cenderung fluktuatif tergantung pemakaian, biaya listrik akan terus dikeluarkan oleh perusahaan selama beroperasi sehingga termasuk fixed cost. 

Contoh Variable Cost:

  • Bahan Baku: Bahan yang terkait langsung dengan proses produksi.
  • Tenaga kerja tidak tetap: Tidak semua tenaga kerja masuk dalam kategori variable cost, hanya tenaga kerja sementara atau non-tetap yang merupakan bagian dari biaya variabel.
  • Pemenuhan alat produksi: Biaya yang dikeluarkan untuk memastikan alat produksi dapat beroperasi dengan baik.
  • Upah lembur: Upah lembur termasuk dalam biaya variabel tergantung pada jam kerja.
  • Komisi: Biaya yang diperoleh dari penjualan produk, dihitung dari hasil setiap penjualan dengan jumlah tertentu.
  • Biaya pengiriman: Pengiriman produk ke beberapa tempat akan berpengaruh pada pengeluaran biaya sehingga biaya ini termasuk variable cost.

Cara Menghitung Fixed Cost dan Variable Cost

Menghitung besaran fixed cost dan variable cost dengan akurat sangat penting bagi perusahaan. Meskipun secara teori rumus perhitungannya cukup sederhana, penerapannya memerlukan pemahaman mendalam dan validasi data yang cermat.

Berikut ini cara menghitung fixed cost dan variable cost beserta rumus dasarnya.

Cara Menghitung Fixed Cost

Agar bisa menghitung fixed cost dengan tepat diperlukan rumus sederhana seperti berikut:

Fixed Cost = Total Biaya – (Biaya Variabel per Unit x Jumlah Unit yang Diproduksi)

Cara menghitungnya mudah, cukup dengan mengurangkan total biaya produksi dengan hasil kali antara biaya variabel per unit dengan jumlah unit yang diproduksi.

Hasil pengurangan tersebut merupakan besarnya fixed cost yang harus dikeluarkan perusahaan untuk periode waktu tertentu. Dengan begitu, besaran biaya tetap dalam kegiatan operasi perusahaan dapat diketahui.

Contoh Perhitungan Fixed Cost 

Pada Januari 2024, Perusahaan F mengeluarkan total biaya produksi sepatu olahraga sebesar Rp180.000.000. Jumlah sepatu olahraga yang diproduksi pada bulan tersebut mencapai 15.000 pasang dan biaya variabel yang dikeluarkan per pasang sepatu sebesar Rp8.500.

Maka perhitungannya adalah:

Fixed Cost = Total Biaya – (Biaya Variabel per Unit x Jumlah Unit yang Diproduksi)

= 180.000.000 – (8.500 × 15.000)

= 180.000.000 – 127.500.000

Total Fixed Cost = Rp52.500.000

Jadi, pada periode tersebut, dapat diketahui fixed cost perusahaan F adalah sebesar Rp52.500.000.

Cara Menghitung Variable Cost

Sementara itu, untuk variable cost berikut ini rumus sederhana yang bisa digunakan:

Variable Cost = (Total Biaya – Fixed Cost) / Jumlah Unit Diproduksi

Cara perhitungannya adalah dengan mengetahui total biaya dan fixed cost perusahaan terlebih dahulu. Kemudian, total biaya dikurangi fixed cost dan hasilnya dibagi dengan jumlah unit yang berhasil diproduksi.

Hasil pembagian tersebut merupakan besaran biaya variabel per unit. Dengan mengalikan nilai ini dengan jumlah unit yang diproduksi, maka didapat total variabel cost perusahaan untuk periode tertentu.

Contoh Perhitungan Variable Cost 

Pada bulan Maret 2023, perusahaan D yang merupakan produsen peralatan kantor, mengeluarkan total biaya produksi sebesar Rp280.000.000.

Dari jumlah tersebut, fixed cost yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah sebesar Rp125.000.000. Pada bulan tersebut, perusahaan berhasil memproduksi sebanyak 4.000 unit barang.

Maka perhitungannya adalah:

Variable Cost = (Total Biaya – Fixed Cost) / Jumlah Unit Produksi

= (280.000.000 – 125.000.000) / 4.000

= 155.000.000 / 4.000

Total Variable Cost = Rp38.750

Jadi, variable cost per unit untuk perusahaan D pada bulan tersebut adalah Rp38.750.

Itulah penjelasan lengkap mengenai fixed cost dan variable cost yang wajib diperhitungkan setiap perusahaan. Estimasi biaya yang cermat dan akurat sangat penting agar perusahaan terhindar dari kerugian akibat kesalahan perencanaan anggaran.

Untuk menunjang produktivitas bisnis, Anda memerlukan dukungan perangkat IT berkualitas seperti laptop dan komputer. Tak perlu bingung, karena Anda bisa menyewanya di Asani.

Asani menawarkan jasa sewa peralatan elektronik mulai dari komputer, laptop, dan lain sebagainya yang dapat Anda cek selengkapnya di katalog sewa Asani.

Jika Anda tertarik, ajukan penawaran sekarang juga ke Asani dengan menghubungi WhatsApp Asani atau email ke cs@asani.co.id.

Tak hanya menyewakan perangkat, Asani juga memberikan kemudahan dalam mengelola aset perusahaan Anda melalui aplikasi MyAsani.

Selain itu, Anda juga bisa berkonsultasi secara gratis apabila memiliki masalah pengadaan perangkat IT di perusahaan Anda. Tunggu apa lagi? Dapatkan solusi bisnis terbaik Anda bersama Asani!

Baca juga: Inilah Cara Meningkatkan Keuntungan Perusahaan!

Share

Post comment

Product Enquiry