metode fifo
7900

Dalam dunia akuntansi, terdapat beberapa metode penilaian persediaan yang digunakan untuk menentukan nilai barang yang masuk dan keluar dari persediaan. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode FIFO atau First In First Out.

Metode FIFO adalah metode penilaian persediaan yang mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali masuk ke dalam persediaan akan menjadi barang pertama yang keluar. Dengan kata lain, barang yang paling lama disimpan dalam persediaan akan menjadi barang yang paling akhir dijual. Dengan penerapan metode penilaian persediaan yang tepat perusahaan bisa meningkatkan keuntungan mereka. 

Agar lebih memahami penerapan metode FIFO, simak penjelasan selengkapnya di artikel berikut!

Apa itu Metode FIFO?

Metode FIFO atau yang dikenal juga sebagai First In First Out adalah cara pengelolaan persediaan di mana barang yang pertama masuk ke stok akan menjadi yang pertama dijual atau dikeluarkan. Metode ini umumnya digunakan dalam akuntansi dan manajemen rantai pasokan untuk melacak alur biaya dan penjualan persediaan barang.

FIFO mengasumsikan bahwa barang dengan harga terlama sudah termasuk dalam harga jual di laporan laba rugi. Dalam prakteknya, FIFO menjual barang berdasarkan urutan masuknya ke stok, artinya yang paling awal masuk akan dijual lebih dulu.

Keuntungan utama metode ini adalah dapat mengurangi risiko kerugian karena yang dijual adalah barang terbaru dengan harga terkini. Selain itu, dalam kondisi inflasi, FIFO lebih menguntungkan karena barang lama diasumsikan memiliki harga lebih rendah, sehingga keuntungan penjualan lebih besar.

Tujuan Penerapan Metode FIFO

Metode FIFO digunakan untuk mengikuti asumsi aliran biaya barang yang diproduksi atau dibeli. Dalam proses produksi, biaya per unit produk diakui sebagai beban saat produk sudah terjual. 

FIFO mengasumsikan bahwa biaya atau harga pokok unit yang dibeli lebih awal akan menjadi dasar penentuan harga pokok penjualan. Artinya, nilai persediaan sisa dicatat berdasarkan biaya atau harga unit pembelian terbaru.

Perbedaan Metode FIFO dan LIFO

Dalam manajemen persediaan barang, terdapat beberapa metode yang umum digunakan, diantaranya FIFO dan LIFO. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara pencatatan dalam manajemen persediaan.

FIFO mencatat nilai persediaan berdasarkan harga pembelian atau produksi terbaru, sehingga nilainya selalu mengikuti harga pasar terkini. Di sisi lain, LIFO atau Last In First Out selalu mengacu pada harga historis saat barang diperoleh paling awal, sehingga cenderung stabil meskipun harga pasar naik turun.

Dampaknya, menggunakan metode FIFO dapat meningkatkan laba perusahaan saat harga pasar tinggi dan menurunkannya saat harga turun. Sebaliknya, LIFO cenderung memberikan sedikit laba saat harga tinggi dan keuntungannya akan naik saat harga pasar rendah karena nilai persediaan didasarkan pada biaya lama.

Dalam pencatatan persediaan, metode FIFO sering dipilih karena dianggap lebih transparan dan jarang menimbulkan pertanyaan dari otoritas pajak. Meskipun demikian, metode LIFO juga memiliki keunggulan, yaitu dapat mengurangi pajak penghasilan perusahaan karena mencatat biaya terbaru terlebih dahulu saat biaya cenderung meningkat.

Sebaiknya, sebelum mengubah metode akuntansi persediaan, disarankan untuk berkonsultasi dengan akuntan guna mendapatkan metode terbaik untuk bisnis Anda.

Perbedaan Metode FIFO dan FEFO

Selain LIFO, terdapat metode lainnya yang juga umum digunakan yaitu, FEFO. Perbedaan mendasar antara FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) terletak pada cara penentuan urutan pengeluaran barang dari gudang.

FIFO mengeluarkan barang berdasarkan tanggal masuk, artinya barang yang lebih dulu masuk akan lebih dulu keluar. Sementara itu, FEFO menggunakan dasar tanggal kadaluarsa atau expired, sehingga barang yang lebih dulu kadaluarsa akan lebih dulu dikeluarkan. 

Penerapan FIFO bertujuan untuk mengurangi risiko kerusakan barang lama. Sementara itu, FEFO fokus pada menjaga kualitas dan keamanan produk yang disalurkan ke konsumen.

Contoh Metode FIFO

Metode FIFO bekerja dengan asumsi bahwa barang yang pertama masuk ke gudang akan menjadi barang yang pertama keluar. Sebagai contoh, suatu perusahaan membeli 100 unit barang seharga Rp10.000 per unit, lalu membeli 100 unit lagi seharga Rp15.000 per unit. Kemudian, terjual 60 unit barang. Maka berdasarkan FIFO, harga pokok penjualan 60 unit tersebut adalah Rp10.000 per unit karena berasal dari pembelian pertama.

Kemudian, sisa persediaan sekarang adalah 140 unit, dengan 40 unit dihargai sebesar Rp10.000 per unit dan 100 unit dihargai sebesar Rp15.000 per unit. Prinsip FIFO adalah menjual barang terlama terlebih dahulu untuk menghindari penurunan nilai akibat keusangan.

Jadi, dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa FIFO digunakan dengan tujuan menghindari keusangan barang serta mempertahankan stok terbaru untuk dijadikan sebagai persediaan.

Baca juga: Perusahaan Startup: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis & Contohnya

Kelebihan dan Kekurangan Metode FIFO

Metode FIFO kerap digunakan dalam pencatatan dan penilaian persediaan barang. Seperti namanya, FIFO berasumsi bahwa barang yang paling awal masuk gudang akan menjadi barang yang pertama kali dijual. 

Meskipun demikian, penerapan metode ini juga memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Adapun beberapa kelebihan dan kekurangan metode FIFO adalah sebagai berikut.

1. Kelebihan Metode FIFO

Banyak perusahaan lebih memilih metode FIFO dalam pencatatan persediaan karena dianggap lebih mudah dipahami dan diterapkan. Selain itu, laporan keuangannya menjadi lebih transparan dan sulit dimanipulasi. FIFO juga telah menjadi standar wajib pelaporan keuangan di banyak negara.

FIFO juga dijalankan sesuai dengan alur penjualan persediaan pada umumnya, yaitu menjual barang yang masuk pertama terlebih dahulu untuk mencegah penurunan nilai. Dengan begitu, nilai persediaan yang tercatat lebih mencerminkan nilai pasar saat ini. Tak hanya itu terdapat juga beberapa kelebihan lain dari FIFO, yaitu:

  • Menghemat biaya dan waktu karena menghitung harga pokok penjualan berdasarkan aliran kas pembelian awal.
  • Penerapannya sederhana, cukup menjual barang yang masuk pertama kali terlebih dahulu.
  • Mengurangi pemborosan dan menjaga keuangan perusahaan tetap aman.

2. Kekurangan Metode FIFO

Meskipun terdapat banyak bermanfaat, metode FIFO juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan dalam pencetatan persediaan. Berikut ini beberapa kekurangan dari penerapan FIFO:

  • Pajak penghasilan (PPh) perusahaan mungkin menjadi lebih tinggi.
  • Perhitungan dan pendapatan laba belum tentu akurat.
  • Terdapat celah antara modal produksi dengan laba penjualan barang.
  • Untuk industri inovatif, metode ini mungkin tidak benar-benar mencerminkan aliran persediaan barang.

Itulah sejumlah informasi lengkap mengenai metode FIFO, mulai dari pengertian hingga contoh penerapannya. Selain memahami metode pengelolaan aset tersebut, untuk menunjang produktivitas bisnis, Anda memerlukan dukungan perangkat yang berkualitas seperti laptop atau komputer. 

Terkait hal tersebut, agar lebih mengoptimalkan keuangan perusahaan dalam pengadaan peralatan kantor, Anda juga perlu mempertimbangkan untuk menyewanya karena modal yang dibutuhkan tentunya lebih kecil daripada membeli.

Jika perusahaan Anda sedang mencari peralatan IT berkualitas, percayakan saja pada Asani. Asani menyediakan layanan penyewaan perangkat elektronik yang dapat menunjang produktivitas bisnis Anda, mulai dari komputer, laptop, peralatan rapat, dan lainnya.

Jika Anda tertarik, langsung saja kunjungi katalog Asani.  

Anda juga bisa mengelola aset perusahaan di Asani melalui aplikasi MyAsani. MyAsani menyediakan berbagai fitur untuk memudahkan pengelolaan aset perusahaan Anda. Namun, tak hanya itu saja, Asani juga menyediakan layanan konsultasi gratis untuk membantu mengatasi masalah pengadaan IT di perusahaan Anda. 

Jadi tunggu apalagi? Segara ajukan penawaran ke Asani melalui WhatsApp atau email cs@asani.co.id sekarang juga!

Baca juga: Inventory Turnover: Definisi, Fungsi, & Cara Menghitungnya

Post comment

Product Enquiry