klasifikasi produk
1740

Klasifikasi produk adalah kegiatan yang dapat mendukung proses berbisnis lainnya, mulai dari supply chain management hingga pemasaran. Aktivitas ini mencakup pengelompokkan produk berdasarkan sifatnya (barang atau jasa serta ketahanan produk), kebutuhan konsumen, hingga proses produksinya. Untuk mengetahui cara klasifikasi produk selengkapnya, simak ulasan di bawah ini!

Apa itu Klasifikasi Produk?

Klasifikasi produk adalah kegiatan mengorganisasi produk berdasarkan beberapa jenisnya. Hal ini dapat memungkinkan perusahaan untuk memproduksi barang atau jasa serta memasarkannya. Sebab, klasifikasi tersebut juga bisa membantu memberikan informasi tentang permintaan produk, penentuan harga, serta target demografi.

Tujuan Utama dari Klasifikasi Produk

Klasifikasi produk adalah salah satu aktivitas yang dapat membantu mempersiapkan proses produksi hingga pemasaran. Lebih lanjut, berikut ini adalah tujuan klasifikasi produk dalam operasional perusahaan:

  • Menyusun strategi pemasaran sesuai dengan jenis produk, target pelanggan, serta gaya pembeliannya.
  • Membuat keputusan terkait product life cycle.
  • Menetapkan harga produk.
  • Memahami jumlah pengadaan barang atau jasa sesuai permintaan konsumen.
  • Menargetkan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan lebih spesifik.
  • Membantu perusahaan membuat inovasi baru berdasarkan kebutuhan konsumen.

Jenis Klasifikasi Produk

Produk yang diperjualbelikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Pengelompokkan produk ini dapat dilakukan berdasarkan berbagai hal, seperti karakteristik, harga, frekuensi pembelian, hingga ketersediaannya. Namun, berikut ini adalah contoh klasifikasi produk yang paling umum.

A. Klasifikasi Produk Berdasarkan Sifatnya

Produk dapat dikelompokkan berdasarkan sifatnya, yaitu wujud dan daya tahannya. Secara umum, produk dibagi menjadi barang dan jasa, Namun, barang bisa diklasifikasikan kembali berdasarkan daya tahannya. Untuk penjelasan lebih lengkapnya adalah sebagai berikut.

1. Barang Tahan Lama

Barang tahan lama (durable goods) adalah produk berbentuk fisik yang dapat dipakai dalam jangka panjang dan bisa digunakan secara berulang. Dengan begitu, konsumen tidak perlu sering membelinya. Untuk mempromosikannya, Anda bisa melakukan teknik personal selling yang menawarkan berbagai keuntungan serta garansi. Adapun contoh barang ini adalah ponsel, perabotan rumah tangga, dan kendaraan pribadi.

Baca juga: Quality Management System: Prinsip, Manfaat, dan Pendekatan

2. Barang Tidak Tahan Lama

Sementara itu, barang tidak tahan lama (non-durable goods) merupakan produk berbentuk fisik yang bisa habis setelah sejumlah pemakaian tertentu sehingga sering dibeli oleh konsumen. Oleh sebab itu, penjual biasanya menjual produk ini di swalayan hingga ritel online secara masif. Contoh barang ini adalah sabun, makanan dan minuman kemasan, hingga bumbu dapur.

3. Jasa

Berbeda dengan barang, jasa adalah produk berbentuk layanan tanpa wujud fisik. Jika ingin produk jasa yang disediakan dipilih konsumen, Anda perlu melakukan pengendalian mutu dan beradaptasi dengan cepat. Contoh jasa yang sering ditawarkan adalah les privat, ojek online, tukang cukur, dan banyak lagi.

B. Klasifikasi Produk untuk Konsumen

Salah satu cara klasifikasi paling efektif adalah dengan mengelompokkannya berdasarkan kebiasaan membeli produk konsumen. Adapun produk konsumen adalah sesuatu yang sering dimanfaatkan konsumen rumah tangga. Klasifikasi produk ini terbagi menjadi empat kelompok berikut.

1. Convenience Goods

Convenience goods adalah barang sehari-hari yang sering digunakan oleh pelanggan. Jika menjual barang-barang ini, Anda sebaiknya menyediakan produk di berbagai tempat agar mudah ditemukan, seperti di supermarket hingga grosir. Sebab, masyarakat lebih mementingkan kenyamanan dan kemudahan pembeliannya.

Terkait hal ini, Anda juga sebaiknya mempromosikan produk dan keunggulannya secara masif karena biasanya terdapat lebih banyak kompetitor. Perusahaan harus bisa memikat masyarakat sehingga mereka lebih merasa nyaman ketika membeli produk Anda.

Untuk memperinci strategi promosinya lagi, Anda bisa mengelompokkan produk menjadi kebutuhan pokok dan barang impulsif. Kebutuhan pokok adalah hal-hal mendasar yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sabun dan tisu. Sementara itu, barang impulsif adalah produk yang mungkin hanya dibeli secara impulsif atau sesekali saja, seperti permen dan pelembap bibir.

Dalam hal ini, kebutuhan pokok harus lebih sering dipromosikan untuk bersaing di pasaran. Sedangkan, promosi barang impulsif lebih berfokus pada membuat kemasan yang menarik.

Baca juga: Tipe Barang dan Jenis Purchasing

2. Shopping Goods

Shopping goods adalah barang yang umumnya dinilai oleh konsumen dari kualitas, kesesuaian, harga, serta gayanya ketika mereka berencana membelinya. Lebih lanjut, barang ini biasanya hanya tersedia di toko tertentu dan pengecer online serta memiliki harga yang lebih tinggi. Contoh barang ini adalah pakaian, perangkat IT, dan kendaraan pribadi.

Sebelum memilih produk, pembeli akan melakukan riset terlebih tahu, seperti terkait daya tahan produk, harga, reputasi merek, penawaran fitur, serta kompatibilitas. Perusahaan penjual barang ini pun perlu melakukan promosi yang dapat meyakinkan konsumen dengan menonjolkan berbagai keunggulannya. Adapun cara paling efektif adalah dengan menyusun strategi layanan pasca-pembelian yang baik. 

3. Speciality Goods

Specialty goods adalah barang khusus yang dipasarkan kepada golongan tertentu. Produk ini umumnya dibuat secara unik, inovatif, dan tahan lama serta memiliki harga yang mahal. Jenis barang ini pun umumnya memiliki pelanggan setia sehingga selalu ada yang membelinya saat produk diluncurkan. Adapun contoh produknya adalah pakaian designer, jam tangan branded, hingga peralatan olahraga khusus.

Selain itu, produk ini biasanya hanya dijual di toko tertentu. Jadi, ketika memasarkannya, Anda perlu mempromosikan dengan menjelaskan tempat pembeliannya kepada target pasar. Tidak hanya itu, karena sudah memiliki pelanggan setia, Anda cukup melakukan retensi konsumen sebaik mungkin, seperti dengan pembaruan fitur, penjelasan rencana masa depan, serta inovasi brand secara berkelanjutan. 

4. Unsought Goods

Unsought goods merupakan produk yang tidak sering dibeli konsumen atau hanya dicari ketika dibutuhkan saja. Pada umumnya, bisnis dibuat untuk mengantisipasi masalah pada masa mendatang dengan memberikan solusi melalui produk yang ditawarkannya. Terkait hal ini, contoh bisnis unsought goods adalah alat pemadam kebakaran dan jasa pembasmi hama.

Karena tidak sering dicari, perusahaan harus bisa meningkatkan brand awareness supaya masyarakat merujuk ke layanan Anda ketika membutuhkannya. Selain itu, strategi retensi konsumen juga penting lantaran bisnis mungkin tidak selalu mendapatkan penjualan.

C. Klasifikasi Produk Industri

Anda juga bisa melakukan klasifikasi produk industri. Hal ini dilakukan berdasarkan bagaimana proses produksinya. Berikut ini adalah tiga cara pengelompokkan produk industri yang bisa dicoba.

1. Bahan Modal

Bahan modal (capital Item) adalah barang industri yang membantu dalam mengelola bahan mentah menjadi produk jadi. Biasanya, pelanggan mencari bahan yang bisa digunakan dalam jangka panjang.

Dalam hal ini, terdapat dua jenis bahan modal, yaitu instalasi dan peralatan. Contoh instalasi adalah gedung kantor dan bangunan pabrik, sedangkan contoh peralatan yaitu generator dan mesin produksi.

Baca juga: Sistem Manufaktur: Pengertian, Fungsi, dan Manfaatnya

2. Bahan Baku dan Suku Cadang

Bahan baku dan suku cadang (materials and parts) merupakan barang yang digunakan selama proses produksi. Adapun jenis ini terbagi menjadi barang mentah, bahan baku yang diproduksi, serta suku cadang komponen.

Barang mentah adalah produk hasil pertanian dan alam. Sementara itu, bahan baku adalah material utama yang melalui proses produksi tertentu, seperti besi, kayu, hingga kain. Kemudian, suku cadang komponen merupakan produk seperti ban dan mesin pencetak.

3. Perlengkapan dan Layanan Bisnis

Perlengkapan dan layanan bisnis (supplies and business service) merupakan barang ataupun jasa yang mendukung proses produksi dengan daya tahan lebih pendek. Lebih lanjut, jenis ini terbagi menjadi barang pemeliharaan dan perbaikan serta perlengkapan operasional. Contoh barang pemeliharaan dan perbaikan adalah lem dan benang, sedangkan contoh perlengkapan operasional yaitu buku serta minyak.

Demikian sejumlah informasi mengenai klasifikasi produk. Hal ini sebaiknya dilakukan sejak awal agar perusahaan bisa menentukan strategi-strategi bisnis untuk memperoleh keuntungan yang lebih baik.

Selain itu, Anda juga perlu menyusun strategi agar kondisi finansial perusahaan terjaga dengan baik. Dalam hal ini, Anda perlu menjaga biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional. Contohnya, perusahaan bisa menyediakan perangkat IT untuk karyawan dengan cara menyewa daripada membelinya.

Pasalnya, menyewa perangkat IT membutuhkan modal yang lebih minim dibandingkan membeli yang baru. Tidak hanya itu, penggunaan jasa sewa perangkat IT juga memungkinkan perusahaan memakai perangkat paling baru serta melakukan upgrade terkini sesuai dengan kebutuhan pada tiap periode rentalnya.

Berkaitan dengan ini, Anda dapat mengandalkan Asani. Asani merupakan vendor sewa perangkat IT yang menyediakan beragam pilihan produk berkualitas sesuai kebutuhan, termasuk berapa lama masa rentalnya hingga jumlahnya. Jika tertarik menyewa perangkat IT di Asani, langsung saja cek katalog sewa dan minta penawaran melalui WhatsApp atau mengirim email ke cs@asani.co.id.

Asani juga menyediakan fasilitas IT asset management bernama MyAsani. MyAsani dapat membantu mengelola data pengguna dan aset dalam satu aplikasi saja. Selain itu, pelaporan kerusakan serta pemantauan perbaikan aset juga bisa dilakukan melalui aplikasi ini.

Dengan begitu, inventarisasi aset menjadi lebih terpusat dan mudah dijalankan. Terlebih lagi MyAsani dilengkapi dengan sistem helpdesk support yang mampu memberikan solusi atas masalah IT dengan melakukan konsultasi gratis.

Jadi, yuk sewa perangkat IT di Asani sekarang juga untuk merasakan berbagai kemudahannya!

Baca juga: Apa itu PPIC? Ini Pengertian, Tugas, dan Tanggung Jawabnya

Share

Post comment

Product Enquiry